Sharing knowledges

…let's save our small planet…

Al Quran dan Earth science

Sudah jadi ketetapan bahwa Al-Quran tidak hanya sebagai kitab suci yang berisikan perintah dan larangan dari Tuhan untuk umat manusia, tetapi didalamnya juga banyak berisikan ayat-ayat peringatan maupun petunjuk kepada manusia diantaranya untuk mempelajari isi bumi maupun alam semesta.

Hal itu terkait  dengan takdir  manusia sebagai khalifah fil ardhi (makhluk utusan Tuhan untuk mengelola dan memelihara bumi semesta alam). Beberapa rangkaian ayat-ayat Al Quran diwahyukan Tuhan, yang isinya tersirat makna agar manusia mempelajari lebih detail lagi bumi seisinya dimulai dengan mengenal tahapan penciptaan bumi hingga fenomena alam yang terjadi didalamnya (yang sudah menjadi Sunatullah=hukum/ketetapan Allah untuk alam semesta).

Semua itu tentunya agar manusia lebih mengenal dan mendekatkan diri pada Tuhan penciptanya maupun yang menciptakan alam semesta tempat mereka berada, dan istiqmah dalam menjalankan perannya sebagai khalifah fil ardhi.

1. Penciptaan Bumi dan Alam semesta:

Dalam Surat An-Nazi’at  ayat 27-33 secara tersirat dijelaskan tentang tahapan enam masa penciptaan alam semesta.

Mengutip sumber penjelasan kontekstual dari web http://t-djamaluddin.spaces.live.com tentang makna ayat-ayat tersebut yang terkait dengan urutan penciptaan alam semesta adalah sebagai berikut:

• Masa I

QS_79_27

(”Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membinanya [27]):

penciptaan langit pertama  kali  terbentuk dari ledakan besar yang disebut ”big bang”, kira-kira 13,7 milyar tahun lalu. Bukti dari teori ini ialah adanya radiasi kosmik di langit yang berasal dari semua arah. Bigbang adalah awal penciptaan runag, waktu, dan materi.  Materi awal yaitu  Hidrogen. Hidrogen menjadi bahan pembentuk bintang, dalam bahasa Al-Quran disebut dukhan. Awan hidrogen itu berkondensasi sambil berputar dan memadat. Ketika temperatur dukhan mencapai 20 juta derajat celcius, mulailah terjadi reaksi nuklir yang membentuk Helium. Reaksi nuklir inilah yang menjadi sumber energi bintang dengan mengikuti persamaan E=mc2, besarnya energi yang dipancarkan sebanding dengan selisih massa (m) Hidrogen dan Helium.

Selanjutnya, angin bintang menyembur dari kedua kutub bakal bintang itu (protostar), menyebar dan menghilangkan debu yang mengelilinginya. Sehingga, selimut gas yang tersisa berupa piringan, yang kemudian membentuk planet-planet. Awan Hidrogen dan bintang-bintang terbentuk dalam alam kumpulan besar yang disebut galaksi. Di alam semesta galaksi sangat banyak membentuk struktur filamen (untaian) dan void (rongga). Jadi, alam semesta yang kita kenal sekarang bagaikan kapas, terdapat bagian yang kosong dan bagian yang terisi •

.Masa II

QS_79_28

(Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya [28]):

pengembangan dan  penyempurnaan alam seperti pada ayat 28,  terdapat pada kata ”meninggikan bangunan  dan menyempurnakan”.  Kata ”meninggikan bangunan” ditafsirkan dengan alam semesta yang mengembang, sehingga galaksi-galaksi saling menjauh dan langit terlihat makin tinggi.

Mengembangnya alam semesta sebenarnya adalah kelanjutan big bang. Jadi, pada dasarnya big bang bukanlah ledakan dalam ruang (seperti meledaknya bom), melainkan melainkan proses  pengembangan ruang alam semesta secara cepat. Sedangkan kata ”menyempurnakan”, menunjukkan bahwa alam ini tidak serta merta terbentuk, melainkan dalam proses evolusi yang terus berlangsung. Kelahiran dan kematian bintang yang terus terjadi. Penyempurnaan alam terus berlangsung. •

. Masa III

QS_79_29

(Dia  menjadikan  malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang [29):

pembentukan tata surya termasuk Bumi Surat An-Nazi’at: 29 menyebutkan bahwa Allah menjadikan malam yang gelap gulita dan siang yang terang benderang. Ayat tersebut dapat ditafsirkan sebagai penciptaan matahari sebagai sumber cahaya dan Bumi yang berotasi, sehingga terjadi siang dan malam. Pembentukan tata surya sama dengan proses pembentukan bintang umumnya, dari dukhan, walau sudah tidak murni Hidrogen lagi. •

.Masa IV

QS_79_30

(bumi sesudah itu dihamparkan-Nya [30]):

Evolusi  Bumi  Penghamparan yang disebutkan dalam ayat 30, dapat diartikan sebagai pembentukan superkontinen Pangaea di permukaan Bumi yang kemudian terpisah-pisah menjadi beberapa benua. Masa III hingga Masa IV ini juga bersesuaian dengan Surat Fushshilat ayat 9 yang artinya, “Katakanlah: ‘Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya?’ (Yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam”. •

.Masa V

QS_79_31

(Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya [31]):

pengiriman air ke Bumi melalui komet. Ayat ini menceritakan mulai adanya air di bumi dan makhluk hidup yang pertama adalah tumbuhan. Air di bumi, berdasarkan kajian astronomi tidak dihasilkan sendiri oleh bumi, tetapi berasal dari komet yang menumbuk Bumi. Hal ini dibuktikan dari rasio Deuterium dan Hidrogen pada air laut yang sama dengan rasio pada komet. Deuterium adalah unsur Hidrogen yang massanya lebih berat daripada Hidrogen pada umumnya.

.Masa VI

QS_79_32

(Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh [32] (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu [33]”):

proses geologis serta lahirnya hewan dan manusia. Dalam ayat 32 di atas, disebutkan ”…gunung-gunung dipancangkan dengan teguh.” Artinya, gunung-gunung terbentuk setelah penciptaan daratan, pembentukan lautan air, dan munculnya tumbuhan pertama. Gunung-gunung terbentuk dari interaksi antar lempeng ketika superkontinen Pangaea mulai terpecah. Kemudian, setelah gunung mulai terbentuk, terciptalah hewan dan akhirnya manusia sebagaimana dalam suatu. Jadi, usia manusia relatif masih sangat muda dalam skala waktu geologi.

Jika diurutkan dari Masa III hingga Masa VI, maka empat masa tersebut dapat dikorelasikan dengan empat masa dalam Surat Fushshilat ayat 10 yang berbunyi, ”Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya”.

2. Fenomena alam Bumi:

2.1 Proses geologi

Sejak  13 abad silam, ternyata  Al Quran pun sudah menerangkan beberapa hal tentang ilustrasi fenomena  kejadian alam di bumi  baik dari  sisi  ilmu geologi maupun astronomi.

Terkait dengan pemahaman ilmu geologi, QS Al Anbiyaa: 31 dan QS An-Naba’: 6-7 menjelaskan tentang fenomena fungsi keberadaan gunung untuk menjaga keseimbangan bumi.  Makna dari kedua ayat Al Quran ini jika diurai  dan ditelaah dengan teori geologi modern sungguh sangat berkaitan erat.

QS_21_31

“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka…” (Al Qur’an, 21:31)

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa gunung-gunung berfungsi mencegah goncangan di muka bumi. Sementara lebih jelasnya lagi,  ilustrasi fungsi gunung untuk menahan goncangan diumpamakan sebagai “pasak” diantara hamparan dataran bumi disebutkan dalam QS: An-Naba’: 6-7.

QS_78_6QS_78_7

“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?” (Al Qur’an, 78:6-7)

Seperti diketahui sebelumnya lapisan terluar bumi, litosfer terdiri dari lapisan kerak bumi+mantel bumi padat mengapung diatas lapisan astenosfer yang bersifat kental dan dapat mengalir seperti cairan tapi sangat lambat karena viskositas dan kekuatan geser yang rendah. Dalam ilmu geologi teori ini dikenal sebagai Teori Continental Drift (benua mengapung) yang dikemukakan oleh Alfred Wegener tahun 1912. Erat kaitannya dengan teori ini yaitu konsep seafloor spreading (tahun 1960-an) yang mendorong terjadinya pergerakan lempeng tektonik pada umumnya.

Dalam ilmu geologi, lapisan litosfer bumi  tersusun atas lempengan-lempengan raksasa, ada sebagian lempeng samudera (oceanic crust) dan sebagian lain lempeng benua (continental crust). Dalam skala waktu geologi, lempeng-lempeng tersebut bergerak relative satu sama lain sbb:

1-      pergerakan konvergen (saling mendekat)/ destructive: terjadi jika 2 lempeng bergesekan mendekati satu sama lain sehingga membentuk zona subduksi/ penunjaman, atau tabrakan antar lempeng benua (continental collision). Palung laut yang dalam biasanya berada di zona subduksi, di mana potongan lempeng yang terhunjam mengandung banyak bersifat hidrat (mengandung air), sehingga kandungan air ini dilepaskan saat pemanasan terjadi bercampur dengan mantel dan menyebabkan pencairan sehingga menyebabkan aktivitas vulkanik.

subduction

2-      Pergerakan divergen/konstruktif terjadi ketika dua lempeng bergerak menjauh satu sama lain. Mid-oceanic ridge dan zona retakan (rifting) yang aktif adalah contoh batas divergen

3-      Batas transform (transform boundaries) terjadi jika lempeng bergerak dan mengalami gesekan satu sama lain secara menyamping di sepanjang sesar transform (transform fault).

Dalam teori tektonik, gunung api/vulkanik muncul sebagai hasil pergerakan konvergen dimana lempeng samudera yang mempunyai densitas lebih (berat jenis lebih) akan bergerak menghunjam dibawah lempeng benua (lebih ringan). Faktor gravitasi juga berpengaruh dalam proses penunjaman kedua lempeng yang berbeda berat jenisnya ini. Lempeng/litosfer samudera yang menunjam jauh dibawah lempeng benua  hingga lapisan astenosfer akan leleh, dan secara alamiah akan melepaskan panas ke permukaan yang kemudian akan membentuk jalur vulkanik/gunung aktif. Teori yang berkaitan dengan proses pembentukan gunung api ini dikenal dengan istilah “isostasi”. Isostasi bermakna: kesetimbangan dalam kerak bumi yang terjaga oleh aliran materi bebatuan di bawah permukaan akibat tekanan gravitasi. (Webster’s New Twentieth Century Dictionary, 2. edition “Isostasy”, New York, s. 975)

mid ocenic ridge

Kembali lagi ke makna dalam ayat Al-Quran yang menjelaskan fungsi gunung sebagai ”pasak”. Kesimpulannya kerak bumi terdiri atas lempengan-lempengan yang senantiasa dalam keadaan bergerak karena mengapung diatas lapisan astenosfer. Pembentukan gunung api sesuai dengan teori isostasi di zona penunjaman, merupakan fenomena alam untuk menyeimbangkan pergerakan relatif lempeng samudera dan benua, agar lempeng benua tidak terdesak terus-menerus atau relatif stabil pada posisinya. Inilah ilustrasi makna ”keberadaan gunung-gunung yang menggenggam hamparan bumi layaknya pasak”.

subductionzoneearthquakes

Sementara pergerakan lempeng sendiri, secara tersirat juga dijelaskan dalam  QS An-Naml: 88, dimana dilustrasikan bahwa gunung-gunung sebenarnya tidaklah diam sebagaimana yang tampak, akan tetapi mereka terus-menerus bergerak.

QS_27_88

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Qur’an, 27:88)

Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di awal abad ke-20. Para ilmuwan menjelaskan peristiwa ini sebagaimana berikut:

Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama, dan beberapa lempengan kecil. Menurut teori yang disebut lempeng tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya. Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1 hingga 5 cm per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun, misalnya, Samudera Atlantic menjadi sedikit lebih lebar. (Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 30)

peta-lempeng_dunia

Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. (Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah “continental drift” atau “gerakan mengapung dari benua” untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13)

Tidak dipertanyakan lagi, adalah salah satu kejaiban Al Qur’an dimana fakta ilmiah ini tentang ilmu geologi yang baru-baru saja ditemukan ini, sebelumnya telah dinyatakan dalam Al Qur’an.

2.2 Astronomi

Al Quran pun juga menerangkan beberapa hal tentang ilustrasi fenomena  alam di bumi  ditinjau dari baik dari  sisi  astronomi.  Salah satu ayat yang berkaitan  dengan ini adalah  QS Al Anbiyaa: 33.

QS_21_33

“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya…” (Al Qur’an, 21:33)

Ayat ini  mengandung makna yang sangat luas, jika diurai  dan ditelaah lebih lanjut akan menjelaskan  tentang proses  dan sistem tata surya  bumi,  keberadaan bumi  terhadap matahari maupun bulan, hingga proses yang terjadi seperti rotasi, revolusi bumi ataupun pergerakan bulan terhadap bumi.

Bisa dibayangkan waktu diturunkan ayat ini dahulu, manusia belum  memahami  betul makna hirarki  ayat ini  sehubungan sistem tata surya maupun dengan proses alam di dalamnya. Pada jaman tersebut, manusia  mungkin baru memahami   adanya perubahan waktu  siang dan malam,  seiring dengan muncul dan tenggelamnya  matahari dan bulan.  Padahal semua itu ada  efek dari  proses alamiah  besar  dalam sistem tata surya…yang tentu sudah merupakan Sunatullah  juga.

Dengan adanya rotasi bumi  dimana bumi berputar  para porosnya,  manusia  akan mengenal waktu  siang dan malam….hari,  minggu  dan tahun.  Begitu pula dengan adanya revolusi bumi terhadap matahari….manusia pada akhirnya  bisa mengenal  periode tahun Masehi,  atau dengan peredaran bulan mengelilingi bumi, kita bisa mengenal periode waktu tahunan yang dikenal sebagai kalender Qomariah.

Makna lain terkait dengan fenomena alam dan penjelasan dalam ayat Al Quran tersebut,   intinya manusia dikenalkan dengan waktu”.  Semua  manusia yang hidup di muka bumi  ini akan terikat  erat dengan  waktu,  bahkan dari perjalanan hidupnya mulai dari proses dia terbentuk, lahir  hingga mati  semuanya  seiring dengan perjalanan waktu. Ini  untuk menyadarkan manusia bahwa dengan waktu  kita dikenalkan ada fase awal dan akhir,  juga  dengan kehidupan dunia ini  yang fana’   semua  ada  akhirnya.  Sudah sepatutnya  manusia tunduk kepada  Allah SWT Yang Maha Kekal  yang menciptakan dan mengatur alam semesta ini  dalam genggaman-Nya.  Waallohu a’alam bi showab.

Sumber : – website : www. keajaibanalquran.com ( mengacu karya harun yahya)

-website: http://t-djamaluddin.spaces.live.com

Iklan

Oktober 28, 2009 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: