Sharing knowledges

…let's save our small planet…

Dilema Kemacetan Lalulintas…

Mungkin  sudah jadi  pemandangan biasa dan dimaklumi banyak orang kali ya….kejadian  macet  dikota-kota  besar dunia, seperti halnya   Los Angles   atau  Jakarta.

7 tahun lebih  merasakan  sesaknya  hidup di Jakarta,  membuat  saya  termenung  tiap  kali melihat  kejadian seperti ini didepan mata…Bukan hanya karena  rasa capek, lelah, dan stress,   tapi  ada  rasa  sesal yang mendalam  dikarenakan fenomena  ini.

Bagi  saya pribadi…dimana tiap hari  saya hanya diberi  waktu  24 jam  untuk  mengatur aktivitas  hidup saya,  dan  gara-gara  macet  waktu yang terbuang sia-sia  bisa sampai 3 jam sehari.  Pergi  ke kantor  yang sebenernya jarak tempuh   hanya 17 km atau maximum 20 menit kalau lancar, namun kenyataannya waktu tempuh tiap pagi  Senin-Jumat  rata-rata  1.5 jam, demikian pula  waktu yang ditempuh  pada jam pulang.   3 jam  sungguh berharga  untuk  melangsungkan keharmonisan keluarga saya,  menemani aktivitas anak atau sekedar  relaks  bersama. Jadi tak heran kalau ada orang bilang “di Jakarta  hidup bisa tua dijalan…” ya begitulah kira-kira kenyataannya. Belum lagi kalau menghitung sisi  nominal,  berapa  pengeluaran  BBM  yang terbuang sia-sia  di jalan.  Mendingan buat tabungan masa depan  tentunya. Pertanyaannya  kapan permasalahan ini  bisa diselesaikan,  apakah  bisa secepatnya atau musti  nunggu sekian generasi.  Jangan-jangan semua ini hanya masalah kemauan,  yaitu  kemauan pihak pemerintah  yang untuk menyediakan sarana transportasi efektif&manusiawi  serta kemauan pribadi yang berduit  untuk mengesampingkan kenyamanan diri dari mengendarai mobil pribadi beralih ke transportasi umum.

Champaign hemat energi  percuma juga,  kalau tidak diimbangi  kesadaran masyarakat untuk berhemat.  Seringkali saya  jumpai fenomena dimana satu keluarga punya mobil lebih dari 4 buah, bisa dibayangkan  kalau itu terjadi  pada 10-15 %  KK di Jakarta  saja dan tiap paginya  mereka beraktivitas hampir bersamaan.  Conto real  dari   grafik pertambahan kendaraan di Jakarta berikut ini,  dimana dari tahun ke tahun jumlah  kendaraan selalu meningkat  seiring dengan bertambahnya  populasi penduduk,  gimana tidak  “macet”  kalau begini.

Sebenarnya  ada concern yang lebih saya khawatirkan, dimana  fenomena diatas sungguh bertolak belakang dengan  kebijakan antisipasi krisis energi.  Semua sudah tahu  kalau  sumber energi fossil ini, makin lama makin berkurang   namun dilemanya  justru  kebutuhan akan sumber energi  ini dari waktu ke waktu semakin meningkat. Bagaimana  dengan nasib  anak-cucu/generasi nanti,  jika sampai kini  kita masih terbiasa boros dan tidak peduli  dengan penghematan sumber energi ini.   Hingga saat inipun  kita masih sangat tergantung  dengan sumber energi yang satu ini, bukan sekedar untuk keperluan transportasi saja loh, tapi sektor  lain seperti  industri,  rumah tangga bahkan  sebagian generator listrik saja masih mengandalkan pemakaian  bahan bakar ini.

Padahal mustinya perlu disyukuri  kita hidup di negeri  yang kaya akan sumber daya  termasuk  sumber energi alternatif  seperti  panas matahari,  angin, panas bumi, pasang surut  dsb,  tapi  kapan kita mulai  efektif  bisa memanfaatkan semua itu.  Lagi-lagi  keliatannya  semua tergantung kemauan.. kemauan untuk  mendanai  eksperimen sebagai alasan terbesar ( lah yang jelas murah dan gampang menghasilkan uang  kenapa musti repot),  atau kemauan pribadi menghemat/ikut berpikir akan sumber energi alternatif conto simple misalnya,…mengeringkan baju aja kenapa musti pake mesin.

Seperti terlihat di grafik berikut  kita sudah memasuki  era dimana  kebutuhan energi  sudah melampaui  kemampuan  produksi  sumber energi fossil.  Adakah kita menyadarinya…seandainya  kita sudah memasuki  era krisis energi.  Lah…setengah hari  mati listrik saja…hidup terasa  runyam, banyak aktivitas/kegiatan yang tergantung  dengan kendala  seperti ini.  Hal itu  tentu tidak kita inginkan  bersama, apalagi  kalau  menyangkut aktivitas yang menjadi sumber kehidupan  keluarga. Bisa dibayangkan  kalau  sektor industri sampai  berkurang/tutup  gara-gara kekurangan sumber energi ini,  terus  berapa banyak manusia  yang  terpangkas  sumber penghidupannya…itu hanya ilustrasi kasar saja.

Semoga  aja…masih  ada  secercah harapan untuk berbenah ke depan…mulai  dari sekarang juga, dan mulai dari  kesadaran  diri  sendiri tentunya…sebelum mengajak orang lain.

ZAS

Iklan

November 27, 2009 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar